Rusun Siliwangi, Bandung

7 01 2008


“home is not where you lived, but where they understand you”,

Christian Morgenstern

Ketika mengambil studio AR4000 pada tahun 2007 kemarin, saya mendapat kasus perancangan yang cukup menarik, yaitu Rumah Susun. Rangkaian studio AR4000 kali ini cukup berbeda dengan tahun sebelum2nya. Seperti lahan perancangannya sudah ditentukan atau lingkup pilihan kasus pun cukup sedikit, tidak sebebas tahun sebelumnya.

Namun lokasi dari site-site yang disediakan tadi menurut saya kesemuanya cukup menantang. Seperti lokasi kasus saya terletak pada bantaran sungai Cikapundung yang saat ini menjadi kampung kota(slum area).

Saat ini Indonesia masih menjadi Negara terpadat keempat di dunia setelah China, India, dan Amerika. Namun sayangnya di Indonesia pemerataan penduduk masih belum tercapai sehingga lebih dari setengah penduduknya tinggal di pulau Jawa, dan Bandung menjadi kota terpadat ketiga setelah Jakarta dan Surabaya. Jadi wajar saja masalah Kampung Kota(slum area) masih menjadi permasalahan utama dalam kota besar seperti Bandung.

Permasalahan pertama yang dapat saya kumpulkan dalam kasus ini adalah masalah lingkungan. Saat ini dampak terbesar dari tumbuhnya kampung kota tadi adalah penutupan muka lahan yang hampir mencapai 80%. Oleh karena itu penyelesaian yang saya lakukan adalah membuat bangunan vertikal sehingga dapat mengurangi beban KDB selain itu dapat menambah jumlah hunian pula.

Permasalahan kedua adalah lemahnya ekonomi masyarakat setempat. Memang dapat dibilang hal inilah adalah penyebab utama dari tumbuhnya slum area. Karena kurangnya kemampuan memiliki tanah sehingga masyarakat golongan ini menempati ruang-ruang kota tak bertuan, seperti bantaran sungai, pinggiran rel kereta api, tanah sengketa, dll. Oleh karena itu pada perancangan rusun ini bagian muka jalan Siliwangi ditempatkan sebagai zona industry kreatif rotan. Sebuah potensi yang sangat baik menurut saya karena tidak beberapa jauh dari lahan ini terdapat daerah perdagangan yang cukup terkenal yaitu jalan Cihampelas.

Permasalahan terakhir adalah kehidupan sosial yang berada didalamnya. Memang saat ini interaksi yang berada didalamnya sudah cukup baik, bahkan menurut saya jauh lebih baik daripada gated community yang tercipta oleh kompleks perumahan yang marak sekarang ini. Namun dari kasus ini permasalahan yang harus diselesaikan adalah bagaimana agar dengan desain yang tercipta dapat meningkatkan kohesi dari kehidupan sosial masyarakat didalamnya bukan membunuh ikatan tadi. Penyelesaian yang saya lakukan adalah meletakan ruang bersama disetiap unit. Dan dalam keseluruhan kompleks ini diletakan ruang terbuka yang dapat digunakan berbagai aktifitas didalamnya.

Pendekatan yang digunakan tidak terlepas dari pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang saat ini sedang marak, melalui 3 aspek tadi yaitu Environment, Economic, dan Community.

Selain itu potensi besar yang selama ini masih belum dimanfaatkan dikota-kota besar di Indonesia adalah waterfront development. Melihat potensi ini saya memberikan green belt disepanjang bantaran sungai sebagai sebuah kontribusi untuk masyarakat kota Bandung. dan diharapkan jalur hijau ini dapat meningkatkan kepedulian masyarakat kota terhadap lingkungannya.

Setelah menyelesaikan tugas ini membuat saya menjadi lebih mengerti tentang arti dari kata desain itu sendiri, yaitu menjawab permasalahan. Dua kata yang diajarkan ketika tingkat II namun sering terlupa karena nikmatnya mengikuti keegoisan hati.



Tindakan

Information

Tinggalkan komentar

kamu dapat menggunakan tag-tag ini : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>