USM memberikan bibit unggul untuk ITB.

Keputusan rektor tahun 2003 untuk membuat jalur tambahan penerimaan mahasiswa baru ITB, sempat mengakibatkan kekecewaan bagi sebagian besar mahasiswa. Jalur itu disebut Ujian Saringan Masuk – ITB (USM-ITB).

Dengan sumbangan awal sebesar 45 juta, menjadikan jalur tersebut mendapat penilaian buruk di kalangan mahasiswa tadi. Belum lagi ada beberapa mahasiswa yang sumbangan sukarelanya mencapai milyaran rupiah.

‘ITB bermutasi menjadi kapitalis’ menjadi topik pembicaraan paling hangat saat itu.

“Mahasiswa jalur USM paling2 sekumpulan mahasiswa yang hanya bermodal uang untuk mendapat gelar cap gajah, seberapa besar usahanya nanti juga hanya menjadi anak bawang.”, Pikiran itu muncul dibenak saya karena terpengaruh dengan selebaran2 yang beredar di kalangan mahasiswa saat itu.

Sampai tiga semester lalu, penilaian saya terhadap angkatan’45 (nama plesetan menggunakan nominal sumbangan awal yang sudah menjadi rahasia umum) berubah. Kebetulan saat itu saya mengetahui beberapa mahasiswa dijurusan saya yang melewati jalur tersebut. Jadi saya dapat membandingkan kualitas jalur lama dan jalur baru.

Menurut penilaian saya, semua mahasiswa yang masuk melalui jalur USM di jurusan saya, tidak ada yang mengecewakan! nilai dari saya adalah Excellent atau A. Semangat penuh, tahan banting, dan bakat yang memang sudah diseleksi saat tes. Sampai sekarang saya malah banyak belajar dari mereka.

Kasus mahasiswa lulus terlambat ataupun drop out yang biasanya disebabkan karena permasalahan finansial kemungkinan besar tidak akan terjadi. Karena memang rata-rata pengguna jalur USM masuk ke dalam golongan yang cukup mampu.

Penyebab kedua kasus tersebut biasanya karena disorientasi kegiatan dan manajemen waktu yang buruk juga belum saya temukan. Mungkin di jurusan saya ada satu dua orang yang mata kuliahnya mengulang, namun tidak begitu signifikan. Rata2 mereka lebih mendahulukan akademik dibanding hal yang lain. Tetapi bukan berarti mereka menjadi pribadi yang Study Oriented(SO). Beberapa teman saya, bahkan dapat menjalani kegiatan himpunan, unit ditambah lagi les bahasa.

Penyebab ketiga adalah rendahnya motivasi, biasanya untuk beberapa kasus tadi terjadi karena tidak tahu tujuan mereka berkuliah untuk apa. Menurut saya, biaya pendidikan yang cukup tinggi tadi dapat dikatakan cukup untuk menjadi sebuah motivasi. Meskipun belum pernah saya mendengar langsung, teman saya mendapat tekanan dari tingginya biaya kuliah tersebut.

Penyebab terakhir adalah sulitnya mahasiswa bersosialisasi. Perbedaan jenjang sosial, asal daerah, dan cara bergaul kadang membuat mahasiswa merasa minder untuk bergaul. menurut pengamatan saya, hal ini termasuk penyebab mahasiswa malas untuk datang berkuliah. Sejauh yang saya lihat, mahasiswa USM tidak mempunyai masalah dalam hal ini. Bahkan, bisa dikatakan mereka cukup mudah masuk kedalam komunitas apapun.

Pendapat tentang hal ini juga dikuatkan dengan penjelasan seorang dosen dalam satu perkuliahan umum yang saya hadiri semester lalu. Beliau mengatakan

Dari masuknya saja sudah beda. Kalau dibandingkan, mahasiswa lulus tes UMPTN paling-paling hanya mempunyai nilai 6-7 dari 10, kalau USM bisa mendapat 8-9. Sumbangan awal 45 juta itu adalah jumlah uang yang biasanya disubsidi oleh pemerintah untuk satu kepala mahasiswa. Dan untuk kalian tahu, kampus ITB ini sudah beberapa tahun tidak pernah membeli buku.


Tetapi setelah menulis ini, timbul lagi pertanyaan di kepala saya.

“kalau memang dari masuknya, mahasiswa jalur USM bisa mendapat nilai tinggi, kenapa mereka tidak melalui jalur biasa saja ya?”

lalu,

“apakah benar pikiran saya tentang tingginya biaya pendidikan dapat memberikan rasa tanggung jawab lebih untuk seorang mahasiswa terhadap perkuliahannya?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s