Autopilot

1. Rasanya cerita politik dalam negeri terakhir seperti Nazaruddin, BBM, dan Banggar, membuat masyarakat semakin tidak percaya saja terhadap pemerintahan.

2. Titik puncak ketidakpercayaan ini terlihat saat munculnya opini bahwa negara ini sedang berada dalam mode #autopilot.

3. Menariknya dengan kinerja pemerintah seperti ini, tahun 2011 kemarin, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5%.

4. Dimana rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 4.3%, yang artinya rapor kinerja Indonesia diatas rata-rata tahun kemarin.

5. Fitch dan belakangan Moddy’s pun seperti semakin “mensahkan” posisi Indonesia menjadi sebuah negara yang layak untuk berinvestasi.

6. Polemik ini membawa saya ke Edward Glaeser yang menyimpulkan bahwa terdapat 2 jenis penyebab keberhasilan pertumbuhan ekonomi sebuah negara.

7. Pertama adalah karena dampak kebijakan pemerintah, dan yang kedua adalah karena semangat kerja dan keuletan warga negaranya.

8. Negara yang dapat menjadi contoh dalam kategori pertama adalah Singapura dan Uni Emirat Arab.

9. Pertama-tama Lee Kuan Yew memberikan modal penting warga Singapura yaitu pendidikan.

10. Kemudian mengarahkan perkembangan evolusi industri Singapura dari bidang garmen, lalu ke bidang elektronik, dan biomedis.

11. Dan terakhir karena luas negaranya yang kecil, Lee mulai menarik para investor dan pekerja asing untuk “bermain” di negaranya.

12. Sedangkan contoh negara yang pertumbuhan ekonominya dipicu oleh pergerakan warganya adalah Jepang.

13. Jepang merupakan satu contoh dimana kebijakan ekonomi pemerintahnya kalah terhadap keberhasilan para “Venture Capitalists”nya,

14. Walaupun begitu pemerintahnya cukup baik dengan terus memfasilitasi kota-kotanya untuk mengiringi pertumbuhan ekonomi.

15. Lalu masuk kedalam kategori mana kah negara kita, dengan keberhasilan 6,5% – 2011 kita kemarin?

16. Hasil sebuah Intervensi pemerintahan? atau keuletan dan semangat kerja warga negaranya?  *atau kerjasama keduanya?

17. Sebuah pertanyaan retoris yang tidak bisa saya jawab atau memang tidak perlu.

18. Tetapi dengan rapor tahun 2011 kemarin, saya yakin bahwa pembangunan di Indonesia tahun ini akan lebih mengelora,

19. Para investor akan sangat tergelitik untuk melemparkan pundi uangnya ke kantung-2 usaha di Indonesia.

20. Jangan kita sia-siakan momentum ini. selamat bekerja, selamat berinvestasi, Indonesia.

(opinion on twitter)

Esemka

1. Saya bingung membuat pesawat saja dari dulu kita bisa, kenapa membuat mobil baru bisa sekarang? Apakah ada tangan lain yang menahan agar kita bisa?

2. Ditengah banjirnya produk asing, bangsa ini rindu dengan rasa nasionalisme didalam dirinya. Berapa banyak barang “made in indonesia” anda?

3. Saya? jujur saja sedikit sekali, sebagian besar adalah “Made in China”.

4. Sayangnya euforia esemka ini sebenarnya mengerdilkan kembali pardigma masyarakat dalam gaya hidup bermobilisasi.

5. Terlebih ketika pejabat pemerintah berlomba-lomba untuk membeli kendaraan pribadi. Mengajarkan masyarakatnya untuk mundur dalam gaya hidup berkota.

6. Kendaraan pribadi adalah bencana paling mengerikan dalam sejarah perkotaan.

7. Beberapa theorist menyimpulkan munculnya moda transportasi pribadi merupakan salah satu penyebab utama penyakit urban sprawling.

8. Apabila ingin selangkah lebih maju dari Malaysia/India dengan mobil nasionalnya, kita sebaiknya alih fokus pada transportasi massal produk nasional.

9. Bisa dimulai dari bus Transjakarta penambahan armadanya menggunakan produksi nasional.

10. Atau setidaknya dimulai dari sepeda “Made in Indonesia” untuk bicycle sharing seperti Velib-Paris, MBS-Melbourne atau Hangzhou’s Bikesharing.

11. Mimpi saya, mungkin mimpi kita semua, armada MRTJ nanti pun kalau bisa jadi buatan nasional.

12. Tapi kenapa tidak bisa? Kembali lagi ke fakta bahwa membuat pesawat saja kita bisa.

13. Dengan begitu mungkin kita bukan hanya selangkah tapi sepuluh langkah lebih maju dari tetangga kita.

14. Pertanyaannya sekarang adalah, “seberapa kuat kita melawan tangan yang menahan kita untuk bisa?” dan “berapa langkah kita ingin maju?”.

(opinion on twitter)